RINTIH IBU PERTIWI
Matahari kini
bersinar tak seperti dulu lagi. Entah kemana senyum mentari di masa sekarang
ini. Selalu terbit dengan tanpa senyum menyinari hari ini.
Nyanyian merdu para
perkutu tak lagi ku dengar indah menghias pagi. Selalu hening pagi ku kini, entah apa yang terjadi.
Hawa sejuk usia
hari,kkini tak lagi merasuk ke dalam raga ini,semua serba salah dan taka
terarah belakangan ini.
Seperti tak lagi
berarti hidupku kali ini.
Tak ikhlas alam ku
memberi sambutan pada diri.
Entah apa yang
terjadi namun ini yang kulalui
Rentetan hidup manis
yang kian busuk tuk dinikmati
Tak kuat ku jalani
hari
Muak aku dengan semua
ini
Siapakah yang harus
bertanggung jawab atas semua ini
Ingin ku marah pada
mereka kuasa yang tak ada tanggung jawabnya sama sekali
Ataukah kepada mereka
yang hanya bisa bersuara tanpa ada bukti nyata dalam tingkah yang berkarya
Ingin kumuntahkan
semua yang ada dalam diri
Inginku getarkan
semua tubuh yang kumiliki
Ingin kuluapakan
semua air tuk membanjiri
Ingin ku bakar semua ladang
yang bisa di tanami
Merintih sedih sakit
luka panas muak hancur jeritan tangis tak dapat dihindari
Habislah semua…..
Luka kutau itu sakit
Panas kutau itu perih
Dingin kutau itu
menusuk
Mati kutau itu tak
ingin
Tapi kenapa kau bunuh
aku dengan semua perlakuanmu
Membuat alam tak lagi
gembira menatapku
Membuat dunia hina
menatapku
Membuat kawan-kawanku
enggan bercengkrama denganku
Tapi untungnya tuhan
masih cinta kepadaku
Anakku…
Jangan buat tuhan
sampai membenciku dan membuat aku mati dan tak dapat lagi melindungimu.
Bukan aku yang ingin
membuatmu sakit menderita,tapi ini harus sebagai teguranku untukmu
(Satu Pena)
Sehina apakah kita sampai ibu pertiwi kita menagis dan kita
mendengarnya?
Sedih diri ini melihat negeri yang kian hari kian tak tentu
arah dan jelas kemana kan pergi. Gila kekuasaan yang tak pernah henti. Gila uang
yang tak pernah teradili. Gila popularitas yang kian hari kian ramai di televise.
Sampai para penerus bangsa tak lagi di sayangi bahkan di tendang dilempar tanpa
ada dedikasi lagi.
Pemuda dibiarkan hidup tanpa ada kasih dan binaan. Mereka
hidup dalam kerasnya siang dan dinginnya malang.
Krisis negeri saat ini,saat kursi pemerintahan menjadi karet
lompat tali. Ditarik sana ditarik sini. Diputar-putar tak tentu arah tujuannya
kemana. Saat ruang rapat parlemen menjadi kelas anak-anak TK lagi. Baku pukul
baku hantam demi menangnya ego pribadi.
Bhineka tunggal ika menjadi basi di tangan para petinggi. Kekuasaan
di terbagi-bagi. Ini koalisi ku bukan koalisimu. Ini misi kelompokku bukan
kelompokmu. Ini pemerintahan bukan kompetisi. Bukan adu ego dalam berprestasi. Untuk
membangun negeri, bukan untuk bangun rumah trus kau hancurkan lagi. Sampai kapan
mau begini saat ego jadi tuhan dalam pemeritahan. Ingin menang sendiri padahal
negeri milik bangsa dan anak cucu nanti. Bukan ladang untuk cari uang. Tapi tempaan
untum melahirkan manusia-manusia terbaik nantinya.
Jadilah pemimpin yang mengrti dan melayani. Bukan atas nafsu
pribadi,tapi untuk rakyat yang ditanganmu lah hidup mati mereka.
Jadilah warga Negara yang baik dan mencintai Negara. Bukan sekedar
kata-kata tetapi merasuk ke dalam jiwa. Bukan sebatas formalitas belaka dengan
makna dan esensi yang hampa.
Jadilah warga Negara yang berbakti dan berjuang untuk Negara.
Bukan sebatas perjuangan untuk status sosial belaka. Bukan pula perjuangan
tanpa akhir untuk statsu ekonomi yang hanya uang-uang saja.
Dan jadilah warga Negara yang benar-benar mencurahkan
seluruh isi hati dan pikirannya untuk kebangkitan yang nyata. Bukan kritik-kritik
kosong tanpa solusi. Bukan pula dengan cacian-cacian hina untuk para pemimpin
nengeri. Dan bukan juga dengan tuntutan-tuntutan pribadi yang terluntar dengan
emosi-emosi ngeri tak terkendali.
BANGKITLAH NEGERIKU!!!
BANGKITLAH KAWANKU!!!
BANGKITLAH BANGSAKU!!!
BANGKITLAH PEMUDA NEGERIKU!!!
Dengan langkah yang nyata dan misi luar biasa
Semangat membara didampingi dengan iringan doa kepada yang
Maha Kuasa
Karena negeri ini adalah hutan rimba yang sedaang menunggu
singa-singa yang akan menguasai stepa sabana sampai hutan belantara
Salam manis negeriku untukmu
Indoneiaku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar