Jumat, 12 Desember 2014

RINDU PERTIWI



               RINTIH IBU PERTIWI
Matahari kini bersinar tak seperti dulu lagi. Entah kemana senyum mentari di masa sekarang ini. Selalu terbit dengan tanpa senyum menyinari hari ini.
Nyanyian merdu para perkutu tak lagi ku dengar indah menghias pagi. Selalu hening pagi ku  kini, entah apa yang terjadi.
Hawa sejuk usia hari,kkini tak lagi merasuk ke dalam raga ini,semua serba salah dan taka terarah belakangan ini.
Seperti tak lagi berarti hidupku kali ini.
Tak ikhlas alam ku memberi sambutan pada diri.
Entah apa yang terjadi namun ini yang kulalui
Rentetan hidup manis yang kian busuk tuk dinikmati
Tak kuat ku jalani hari
Muak aku dengan semua ini
Siapakah yang harus bertanggung jawab atas semua ini
Ingin ku marah pada mereka kuasa yang tak ada tanggung jawabnya sama sekali
Ataukah kepada mereka yang hanya bisa bersuara tanpa ada bukti nyata dalam tingkah yang berkarya
Ingin kumuntahkan semua yang ada dalam diri
Inginku getarkan semua tubuh yang kumiliki
Ingin kuluapakan semua air tuk membanjiri
Ingin ku bakar semua ladang yang bisa di tanami
Merintih sedih sakit luka panas muak hancur jeritan tangis tak dapat dihindari
Habislah semua…..
Luka kutau itu sakit
Panas kutau itu perih
Dingin kutau itu menusuk
Mati kutau itu tak ingin
Tapi kenapa kau bunuh aku dengan semua perlakuanmu
Membuat alam tak lagi gembira menatapku
Membuat dunia hina menatapku
Membuat kawan-kawanku enggan bercengkrama denganku
Tapi untungnya tuhan masih cinta kepadaku
Anakku…
Jangan buat tuhan sampai membenciku dan membuat aku mati dan tak dapat lagi melindungimu.
Bukan aku yang ingin membuatmu sakit menderita,tapi ini harus sebagai teguranku untukmu
(Satu Pena)
Sehina apakah kita sampai ibu pertiwi kita menagis dan kita mendengarnya?
Sedih diri ini melihat negeri yang kian hari kian tak tentu arah dan jelas kemana kan pergi. Gila kekuasaan yang tak pernah henti. Gila uang yang tak pernah teradili. Gila popularitas yang kian hari kian ramai di televise. Sampai para penerus bangsa tak lagi di sayangi bahkan di tendang dilempar tanpa ada dedikasi lagi.
Pemuda dibiarkan hidup tanpa ada kasih dan binaan. Mereka hidup dalam kerasnya siang dan dinginnya malang.
Krisis negeri saat ini,saat kursi pemerintahan menjadi karet lompat tali. Ditarik sana ditarik sini. Diputar-putar tak tentu arah tujuannya kemana. Saat ruang rapat parlemen menjadi kelas anak-anak TK lagi. Baku pukul baku hantam demi menangnya ego pribadi.
Bhineka tunggal ika menjadi basi di tangan para petinggi. Kekuasaan di terbagi-bagi. Ini koalisi ku bukan koalisimu. Ini misi kelompokku bukan kelompokmu. Ini pemerintahan bukan kompetisi. Bukan adu ego dalam berprestasi. Untuk membangun negeri, bukan untuk bangun rumah trus kau hancurkan lagi. Sampai kapan mau begini saat ego jadi tuhan dalam pemeritahan. Ingin menang sendiri padahal negeri milik bangsa dan anak cucu nanti. Bukan ladang untuk cari uang. Tapi tempaan untum melahirkan manusia-manusia terbaik nantinya.
Jadilah pemimpin yang mengrti dan melayani. Bukan atas nafsu pribadi,tapi untuk rakyat yang ditanganmu lah hidup mati mereka.
Jadilah warga Negara yang baik dan mencintai Negara. Bukan sekedar kata-kata tetapi merasuk ke dalam jiwa. Bukan sebatas formalitas belaka dengan makna dan esensi yang hampa.
Jadilah warga Negara yang berbakti dan berjuang untuk Negara. Bukan sebatas perjuangan untuk status sosial belaka. Bukan pula perjuangan tanpa akhir untuk statsu ekonomi yang hanya uang-uang saja.
Dan jadilah warga Negara yang benar-benar mencurahkan seluruh isi hati dan pikirannya untuk kebangkitan yang nyata. Bukan kritik-kritik kosong tanpa solusi. Bukan pula dengan cacian-cacian hina untuk para pemimpin nengeri. Dan bukan juga dengan tuntutan-tuntutan pribadi yang terluntar dengan emosi-emosi ngeri tak terkendali.
BANGKITLAH NEGERIKU!!!
BANGKITLAH KAWANKU!!!
BANGKITLAH BANGSAKU!!!
BANGKITLAH PEMUDA NEGERIKU!!!
Dengan langkah yang nyata dan misi luar biasa
Semangat membara didampingi dengan iringan doa kepada yang Maha Kuasa
Karena negeri ini adalah hutan rimba yang sedaang menunggu singa-singa yang akan menguasai stepa sabana sampai hutan belantara
Salam manis negeriku untukmu
Indoneiaku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar