CINTA???
Cinta, sebuah kata yang mampu melukisan segalanya.
Cinta, kata yang mampu memberi kekuatan lebih dari semua.
Cinta, sebuah nada dalam relung-relung manusia.
Dan cinta, yang mengajari aku,kami,dia,dan mereka tentang sebuah makna
dari eksistensi hidup kita.
Namun,cinta kini berubah menjelma
Redefinisi cinta membuat semua itu menjadi hampa.
Membuat cinta terhina,membuat jauh dari Sang Maha Cinta.
Apalah arti kata cinta untuk duniaku yang kini tak lagi mengenal kata
cinta.
Yang hanya menjadikan kata cinta sebagai dasar atas semua kekejaman
mereka.
Mengutuk semua pejuang cinta yang berjuang atas nama Sang Maha Cinta.
Menghinakan semua pemilik cinta yang masih menggunakan definisi lama
apa itu cinta.
Menganggap hebat diri dengan semua keburukan yang disisipi nama cinta
di dalamnya.
Apakah itu cinta? Saat semua tangisan yang terjadi berawal dari cinta.
Apakah itu cinta? Saat kehormatan jatuh berasal dari cinta.
Apakah itu cinta? Saat kebahagiaan menjelma menjadi malapetaka?
Apakah itu cinta? Saat syair-syair indah di atas hamparan sajadah cinta
telah musnah dan tak pernah lagi kita ucap syair-syair itu dengan lirih
merendah padaNya.
Saudaraku ketahuilah bahwa,cinta takkan berubah,bahwa cinta akan tetap
ada untuk selamanya.
Sang Maha Cinta takkan pernah rela menggantikan makna cinta yang dulu
pernah menggoreskan kisah-kisah romansa bahkan dalam kitab suciNya,melalui
kisah insan-insan terkasiNya.
Biarkanlah dirinya mengatur scenario kisah romansa kita,jadilah tokoh
utama dalam kisah cinta atas skenarioNya.
Biarkan dirimu menemukan makna cinta yang sebenarnya.
Makna cinta dengan definisi lama.
Tentang jalinan kasih yang disandarkan pada doa,bukan hati dan nafsu
belaka.
Karena cinta akan tetap cinta.
Goreskan sebuah Cerita Indah Nuansa Taqwa Abadi dan hapus dan gantilah
Cerita Indah Namun Tiada Arti.
MAKA JADIKANLAH CINTA ITU ISLAMI.
(Satu Pena)
Assalamualaikum
warohmatullahi wabarokaatuh
Ikhwah fillah semua,cinta adalah sebuah kata yang selalu
hangat menjadi bahan pembicaraan. Karena betapa banyak defines cinta yang bisa
kita ambil dan utarakan. Salah menanggapi kata cinta akan menimbulkan efek yang
luar biasa buruk untuk hidup kita.
Bebasnya penafsiran akan cinta ini,yang akhirnya membuat
kita bingung manakah yang seharusnya kita ambil untuk kita jadikan dasar dari
cinta. Bahkan juga kadang kita tidak tahu dimanakah kita seharusnya
menyandarkan cinta. Sering kita berpikir untuk menggunakan hati untuk semua
cinta. Merasakannya,melalui,menjalaninya dan bahkan menyandarkannya. Kita
sering berpikir bahwa cinta hanya sebatas kata “RASA”,padahal cinta mempunyai
arti lebih sekedar rasa. Bahkan lebih parahnya tak jarang dari kita hanya
mengartikan cinta dengan “NAFSU”. Sehingga tak jarang cinta yang sehausnya
membawa kedamaian berubah menjadi sosok malapetaka.
Lalu kemanakah kita seharusnya menyandarkan cinta,agar
menjadi mulia seperti pada hakikatnya cinta itu sendiri? Ada beberapa sandaran
yang biasa manusia gunakan untuk menyandarakan cinta mereka,terhadap apa yang
mereka cintai.
1.
Nafsu
Tak sedikit dari kita menjadikan nafsu
sebagai sandaran mereka. Mereka yang menjadikan nafsu menganggap indah
menyandarkan cinta pada nafsu. Memang indah menjadikan nafsu sebagai
sandaran,akan tetapi nafsu ini hanya akan menjadikan siksa pada akhirnya. Banyak
manusia yang menjadikan nafsu sebagai landasan untuk dapat merasakan cinta,menyesal
pada akhirnya. Tak ada kata lain selain zina dan maksiat yang menjadi ujung
dari semua cinta yang berlandaskan nafsu.
“ Dan aku akan membebaskan diriku(dari
kesalahan),karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada
kejahatan,kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku
Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”(QS. Yusuf:53)
“ Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia)
benar-benar hendak menyesatkan(orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa
pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu,Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang
yang melampaui batas.”(QS. Al-An’am:119)
2. Hati
Hati,sebuah temapat yang sering manjadi sebuah pengibaratan dimana semua
rasa bertemu. Tak pernah lepas kata hati dari kata rasa. Sehingga,kesan pertama
saat kita mendengar kata hati maka kita akan kata rasalah yang akan langsung
muncul,begitu pula sebaliknya. Namun,tahukah kalian bahwa tidaklah tepat saat
kita eletakkan cinta pada hati. Iya meskipun tak jarang dari kita yang
mengatakan bahwa hati adalah tempat yang tepat untik menyimpan cinta dengan
semua rasanya, tapi kita sering lupa bahwa hati kita(semua manusia)berada di
tanganNya. Sehingga hati kita memiliki tabiat untuk terbolak-balikan. Tak jarang
perasaan suka dan cinta datang,dan tak lama setelah itu ia menghilang.
Aisyah RA berkata Nabi Muhammad
SAW sering berdoa dengan mengatakan,”wahai Tuhan yang Maha Membolak-balikkan
hati,teguhkanlah hatiku diatas agamaMu”. Aku pernah bertanya”Ya
Rasulullah,kenapa Anda sering menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang
merasa takut?” Beliau menjawab”Tidak ada yang membuatku merasa aman hai
Aisyah,hati seluruh hamba ini berada di antara 2 tangan Allah Tang Maha Memaksa.
Jikan mauu membalikkan hati seorang hamba-Nya,Allah tinggal membalikkanya
begitu saja”
Maka hati bukanlah tempat yang tepat untuk kita menyimpan cinta. Karena mudahnya
hati untuk terbolak-balik membuat cinta yang kita miliki pun mudah untuk
terbalikkan. Sehingga cinta yang kita miliki hanyalah cinta sesaat saja,dimana
ia datang untuk pergi bukan untuk kekal abadi.
3.
Doa
Doa adalah sebuah media dimana kita akan berhibungan langsung dengan Sang
Maha Kuasa. Dialah Sang Maha Cinta yang memiliki semua cinta,dan Dialah yang
seharusnya kita Cintai. Dialah tempat dimana semua Cinta bertemu. Didasarkan dengan
doa maka semua cinta kita akan menjadi hakiki. Doa diatas ketaatan yang akan
selalu menjadi jalan suci kita dalam menjalani cinta. Karena dengan doa semua
akan menjadi kekal di atas sana.
“ Janganlah
kalian menyimpan cinta(seseorang di dalam hati,karena hati manusia mudah untuk
terbolak-balikkan. Maka simpanlah cinta(seseorang) dalam Doa,karena doa akan
terbang ke langit dan kekal disana”
Ikhwah fillah,dalam
perputaran roda kehidupan ada beberapa manusia yang sempat mengalami kisah
romansa dalam hidupnya,yang dari kisahnya kita bisa mengambil makan yang dalam
dari apa itu cinta.
Yang pertama
adalah kisah dari seorang sahabat Rasul yang bernama Salman Al-farisi.Ia merupakan seorang mantan budak dari Isfahan Persia. Kisah cinta
Salman terjadi saat ia tinggal di Madinah setelah menjadi muslim dan menjadi
salah satu sahabat dekat Rasulullah.
Pada suatu waktu, Salman berkeinginan untuk menggenapkan agamnya dengan menikah. Selama ini, ia juga diam-diam menaruh hati pada seorang wanita salehah dari kalangan Anshar. Namun,apalah daya sebagai seorang imigran ia tak mempunyai untuk melamar wanita tersebut.
Pada suatu waktu, Salman berkeinginan untuk menggenapkan agamnya dengan menikah. Selama ini, ia juga diam-diam menaruh hati pada seorang wanita salehah dari kalangan Anshar. Namun,apalah daya sebagai seorang imigran ia tak mempunyai untuk melamar wanita tersebut.
Ketidaktahuan akan cara
orang arab melamar dan mengkhitbah seorang wanita membuat ia
kebingungan. Salman pun kemudian mendatangi
seorang sahabatnya yang merupakan penduduk asli Madinah, Abu Darda’. Ia
bermaksud meminta bantuan Abu Darda’ untuk menemaninya saat mengkhitbah wanita
impiannya. Mendengarnya, Abu Darda’ pun begitu girang. “Subhanallah wa
Alhamdulillah,” ujarnya begitu senang mendengar sahabatnya berencana untuk
menikah. Ia pun memeluk Salman dan bersedia membantu dan mendukungnya.
Setelah beberapa hari mempersiapkan segala sesuatu, Salman pun mendatangi rumah sang gadis dengan ditemani Abu Darda’. Keduanya begitu gembira. Setiba di rumah wanita shalehah tersebut, keduanya pun diterima dengan baik oleh tuan rumah.
“Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman dari Persia. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Rasulullah menganggapnya sebagai ahlu bait (keluarga) nya,” ujar Abu Darda’ menggunakan dialek bahasa Arab setempat dengan sangat lancar dan fasih.
“Saya datang mewakili saudara saya, Salman, untuk melamar putri anda,” lanjut Abu Darda’ kepada wali si wanita, menjelaskan maksud kedatangan mereka.
Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan dua orang sahabat Rasulullah yang utama. Salah satunya bahkan berkeinginan melamar putrinya. “Sebuah kehormatan bagi kami menerima shabat Rasulullah yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi keluarga kami jika memiliki menantu dari kalangan shahabat,” ujar ayah si wanita.
Namun sang ayah tidaklah kemudian segera menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah, ia harus bertanya pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Meski yang datang adalah seorang shahabat Rasul, sang ayah tetap meminta persetujuan sang putrid.
“Jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami,” ujarnya kepada Abu Darda’ dan Salman AL Farisi.
Sang tuan rumah pun kemudian memberikan isyarat kepada istri dan putrinya yang berada dibalik hijab. Rupanya, putrinya telah menanti memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya. Mewakili sang putrid, ibunya pun berkata, “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” ujarnya membuat Salman dan Abu Darda’ tegang menanti jawaban.
“Maaf atas keterusterangan kami. Putri kami menolak lamaran Salman,” jawab ibu si wanita tentu saja akan menghancurkan hati Salman. Namun Salman tegar.
Tak sampai disitu, sang ibunda melanjutkan jawaban putrinya, “Namun,jika lamaran itu datang dari engkau Abu Darda,makaitu berarti iya” kata ibu si wanita shalihah idaman Salman, wanita yang Salman inginkan untuk menjadi istrinya, wanita yang karenanya ia meminta bantuan Abu Darda’ untuk membantu pinangannya. Namun justru wanita itu memilih Abu Darda’, yang hanya menemani Salman.
Sebuah jawaban yang apabila itu datang kepada pria pada umumnya akan membuat hati Salman menjadi hancur berkepung-keping.Ia akan merasakan patah hati yang teramat sangat. Sikap bingung,kikuk,malu,marah bercampur menjadi satu. Serta keadaan yang akan membuat salman merasa salah pernah tinggal di Madinah. Namun Salman merupakan pria shaleh, seorang mulia dari kalangan shahabat Rasulullah. Dengan ketegaran hati yang luar biasa, ia justru menjawab, “Allahu akbar!” seru Salman girang.
Tak hanya itu, Salman justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, ia memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu. “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan akan kuberikan semua kepada Abu Darda’. Aku juga ajan menjadi saksi pernikahan kalian,” ujar Salman dengan kelapangan hati yang begitu hebat.
Setelah beberapa hari mempersiapkan segala sesuatu, Salman pun mendatangi rumah sang gadis dengan ditemani Abu Darda’. Keduanya begitu gembira. Setiba di rumah wanita shalehah tersebut, keduanya pun diterima dengan baik oleh tuan rumah.
“Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman dari Persia. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan Rasulullah menganggapnya sebagai ahlu bait (keluarga) nya,” ujar Abu Darda’ menggunakan dialek bahasa Arab setempat dengan sangat lancar dan fasih.
“Saya datang mewakili saudara saya, Salman, untuk melamar putri anda,” lanjut Abu Darda’ kepada wali si wanita, menjelaskan maksud kedatangan mereka.
Mendengarnya, si tuan rumah merasa terhormat. Tentu saja, ia kedatangan dua orang sahabat Rasulullah yang utama. Salah satunya bahkan berkeinginan melamar putrinya. “Sebuah kehormatan bagi kami menerima shabat Rasulullah yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi keluarga kami jika memiliki menantu dari kalangan shahabat,” ujar ayah si wanita.
Namun sang ayah tidaklah kemudian segera menerimanya. Seperti yang diajarkan Rasulullah, ia harus bertanya pendapat putrinya mengenai lamaran tersebut. Meski yang datang adalah seorang shahabat Rasul, sang ayah tetap meminta persetujuan sang putrid.
“Jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami,” ujarnya kepada Abu Darda’ dan Salman AL Farisi.
Sang tuan rumah pun kemudian memberikan isyarat kepada istri dan putrinya yang berada dibalik hijab. Rupanya, putrinya telah menanti memberikan pendapatnya mengenai pria yang melamarnya. Mewakili sang putrid, ibunya pun berkata, “Mohon maaf kami perlu berterus terang,” ujarnya membuat Salman dan Abu Darda’ tegang menanti jawaban.
“Maaf atas keterusterangan kami. Putri kami menolak lamaran Salman,” jawab ibu si wanita tentu saja akan menghancurkan hati Salman. Namun Salman tegar.
Tak sampai disitu, sang ibunda melanjutkan jawaban putrinya, “Namun,jika lamaran itu datang dari engkau Abu Darda,makaitu berarti iya” kata ibu si wanita shalihah idaman Salman, wanita yang Salman inginkan untuk menjadi istrinya, wanita yang karenanya ia meminta bantuan Abu Darda’ untuk membantu pinangannya. Namun justru wanita itu memilih Abu Darda’, yang hanya menemani Salman.
Sebuah jawaban yang apabila itu datang kepada pria pada umumnya akan membuat hati Salman menjadi hancur berkepung-keping.Ia akan merasakan patah hati yang teramat sangat. Sikap bingung,kikuk,malu,marah bercampur menjadi satu. Serta keadaan yang akan membuat salman merasa salah pernah tinggal di Madinah. Namun Salman merupakan pria shaleh, seorang mulia dari kalangan shahabat Rasulullah. Dengan ketegaran hati yang luar biasa, ia justru menjawab, “Allahu akbar!” seru Salman girang.
Tak hanya itu, Salman justru menawarkan bantuan untuk pernikahan keduanya. Tanpa perasaan hati yang hancur, ia memberikan semua harta benda yang ia siapkan untuk menikahi si wanita itu. “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan akan kuberikan semua kepada Abu Darda’. Aku juga ajan menjadi saksi pernikahan kalian,” ujar Salman dengan kelapangan hati yang begitu hebat.
Dari kisah Salman kita menyadari bahwa taka
da hak bgimkita untuk memaksakan cinta,benar-semua itu berada di tanganNya. Tak
ada hak untuk kita mengatur apa yang kita hendaki. Cinta berarti tak harus
memiliki. Rebutlah Cinta sejati dengan mendekatkan diri kepada Sang Maha Cinta.
Karena hanya cintaNyalah yang takkan pernah mengkhianati,cintaNyalah yang
sejati. Bangunlah jiwa kita untuk selalu mengharap CintaNya,karena dengan cinta
kita kepadanya akan membuat semuanya menjadi Indah pada waktunya.
Kemudian kisah
berikutanya berasal dari seorang yang luar biasa. Dengan kebijaksanaanya beliau
mendapat julukan sebagai khulafaurrasyiddin kelima. Di dalam penggalan hidupnya ada sebuah kisah cinta yang perlu kita
teladan. Kisah dimana beliau suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun
istrinya, Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi.
Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit akibat kelelahan dalam
mengatur urusan pemerintahan. Fatimah pun datang membawa kejutan untuk
menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar,
begitu pun si gadis mencintai Umar. Namun Umar malah berkata: “Tidak! Ini tidak
boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali
kepada dunia perasaan semacam itu,” Umar memenangkan cinta yang lain, karena
memang ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda
lain. Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah
Umar, gadis itu bertanya, “Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah
cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, “Cinta itu
masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam”.
Sebuah arti cinta yang luar biasa
digambarkan oleh kisah tersebut. Dimana cinta berarti melindungi,memberikan apa
semua yang kita punya untuk yang kita cintai. Keputusaan Umar untuk tak
menikahi gadis tersebut,karena ke khawatiran umar bahwa gadis tersebut akan
ikut menderita atas perjuangan umar menjadi khalifa. Kesederhanaan yang umar
bawa saat menjadi khalifah mungkin akan
membuat gadis itu menderita. Kesederhanaan umar tergambar dalam sebuah
kisahnya pula. Saat umar bertanya kepada asisten pribadinya tentang kondisi
ummatnya,kemudian jawaban asistenya adalah”semua ummatmu telah sejahtera
kecuali engkau,aku dan bigal yang engkau tunggangi”. Betapa luar biasa
sederhananya umar sebagai seorang khalifah dan betapa bijaksananya beliau dalam
mengambil sikap sebagai bentuk rasa cintanya.
Ikhwah fillah,betapa panjanga bahasan
atas cinta ini. Dimana kita akan menjadi mulai dengan cinta dan akan terhina
pula dengan cinta. Semua kisah ini tergores atas rasa cinta yang dalam dari
dalam pribadi kepada kalian semua,sebagai bentuk nasehat yang tak lebih dari
potongan-potongan kata yang tersusun menjadi paragraf dan bait kalimat yang
semoga terdapat ridho dan cintaNya di setiap huruf-hurufnya.
Aamiin.
Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini
Selain rasa cinta yang telah mengharu biru hati kami
Menguasai perasaan kami
Menguras habis airmata kami
Dan mencabut rasa kantuk dari pelupuk
Kami adalah kalian wahai saudara-saudara tercinta…
(Hassan Al-Banna)
KATA CINTA UNTUKMU
Satu kata cinta dari Bilal Bin Rabbah
“AHAD…”
Dua kata cinta dari Abu Bakar Ash-Shiddiq
“AKU PERCAYA…”
Tiga kata cinta dari Umar Bina Khattab
“IJINKAN AKU MEMENGGALNYA”
Empat kata cinta dari Khalid Bin Walid
“AKU HARUS MENGEJAR KETERTINGGALANKU…”
Lima kata cinta dari para Dai untukmu
“DIRI MEREKA LEBIH KAMI CINTAI…”
Enam kata cinta dariku untukmu
“PERJUANGAN INI TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar